Blog

A collection of my latest writings and reflections. Documenting what I’ve learned while navigating the complexities of modern product design.

Di tengah derasnya inovasi digital dan tuntutan bisnis yang makin cepat, satu pertanyaan jadi semakin penting: “Apakah investasi kita benar-benar menghasilkan?” Di sinilah peran ROI—Return on Investment—menjadi krusial.

Kalau kita ngomongin soal retensi pengguna, pasti banyak yang langsung mikir soal gamification: point system, badges, progress bar ala-ala game, leaderboard, dan semacamnya. Nggak salah sih. Tapi nggak semua aplikasi cocok pakai pendekatan itu.

Bayangin kamu bikin aplikasi laporan kehadiran karyawan, masa iya harus ada sistem poin kayak battle pass? Atau

Relevansi teori "Thumb Zone"—peta jangkauan ibu jari—dalam konteks perangkat modern yang semakin besar. Meskipun peta ini pernah menjadi acuan penting dalam desain antarmuka mobile, perubahan perilaku pengguna dan ukuran layar memunculkan tantangan baru. Pentingnya tidak hanya mengandalkan asumsi ergonomi lama, tetapi juga mengamati perilaku nyata pengguna dan mempertimbangkan kenyamanan jangka panjang. Dengan pendekatan yang realistis dan narasi yang mengalir seperti suara hati pembaca, artikel ini mengajak desainer untuk lebih bijak dalam menempatkan elemen UI agar tetap human-centered dan kontekstual.

Banyak orang mengira bahwa menjadi desainer UI/UX yang baik cukup dengan menguasai tools dan teknik. Padahal, yang paling sulit—dan paling penting—adalah membangun pola pikir: cara berpikir kritis, empati terhadap pengguna, inklusivitas dalam merancang, hingga ketenangan mengambil keputusan di tengah tekanan. Artikel ini mengajak pembaca untuk menelusuri lapisan terdalam dari proses kreatif seorang desainer—dimulai dari pengalaman otodidak sejak SMA, hingga menyadari bahwa kekuatan terbesar bukanlah pada skill teknis, tapi pada cara kita melihat, merespon, dan memaknai masalah. Sebuah eksplorasi jujur tentang kerja keras, refleksi diri, dan bagaimana pikiran adalah alat desain paling mendasar yang sering dilupakan. Artikel ini bukan hanya tentang desain, tapi tentang menjadi manusia yang berpikir dan merasa.

Kepemimpinan dalam dunia kerja sering dikaitkan dengan jabatan—tapi apakah posisi formal benar-benar menentukan seberapa besar dampak yang bisa kita berikan? Dalam perjalanan panjang sebagai UI/UX designer, aku memilih melepaskan jabatan dan tetap memimpin tanpa titel. Ini bukan keputusan biasa—ini adalah cara baru memengaruhi tim, membangun visi, dan menciptakan perubahan tanpa terikat oleh struktur organisasi.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.